E-Book Teknik Ekstraksi Mineral Emas Menggunakan Sianida - Jakarta

E-Book Teknik Ekstraksi Mineral Emas Menggunakan Sianida — Jakarta
Gambar  E-Book Teknik Ekstraksi Mineral Emas Menggunakan Sianida
Rp 200.000
Harga

Rincian iklan

Sianida (NaCN atau KCN) digunakan sebagai pelarut logam emas dan perak dalam industri pertambangan emas maupun dalam industri perhiasan yang berbahan emas dan perak. Penggunaan yang relatif mudah membuat sianida menjadi bahan kimia pelarut emas yang paling banyak digunakan di Indonesia dewasa ini.

Pengolahan sederhana menggunakan sianida yang umum dilakukan saat ini cukup hanya menggunakan kombinasi pemakaian sianida sebagai pelarut, dan kapur/caustic sebagai penjaga pH dalam kondisi tinggi (agar penguapan sianida akibat terbentuknya HCN pada pH rendah dapat dikurangi). Persoalannya, pada batuan yang mengandung butir emas halus (yang terbungkus oleh berbagai jenis mineral lain) pelarut sianida tak mampu menembus lapisan tersebut, sehingga hanya sebagian dari partikel emas yang telah terbuka yang mampu dilarutkan.

Sianida memiliki selektifitas yang jauh lebih baik dibanding pelarut jenis aqua regia (yang melarutkan hampir semua jenis logam). Akan tetapi sianida juga melarutkan beberapa logam selain emas dan perak seperti ; tembaga, merkuri, dan logam-logam dari golongan platina (Platina, Rhodium, Iridium, dan sebagainya), serta beberapa jenis logam lainnya. Larutnya logam-logam mineral ikutan tersebut selama proses leaching dapat menimbulkan persoalan yang sangat menyulitkan jika ekstraksi larutan dilakukan menggunakan karbon sebagai agen penyerap. Mineral emas yang mengandung mineral ikutan logam-logam dari golongan platina banyak ditemukan di sebagian tambang emas di Indonesia, seperti pulau Sumbawa, Kalimantan, beberapa daerah di pulau Sulawesi, dan beberapa daerah lainnya.  

Berdasarkan survey dan penelitian pada limbah padat ampas pengolahan sianida yang dilakukan PIMTI dari berbagai sentra tambang di Indonesia, disimpulkan bahwa kandungan logam emas yang tertinggal di limbah masih sangat tinggi dan sangat produktif untuk diproses kembali. Nilai kandungan emas pada limbah bervariasi antara 4 gram/ton hingga 6,5 gram per ton, suatu nilai yang cukup besar untuk dikategorikan sebagai limbah. Efisiensi proses dari berbagai sentra ini bervariasi antara 50% (minimum) - 70% (maksimum), padahal mestinya efisiensi yang baik adalah di atas 80% hingga 93% dalam skala produksi.

E-book "Teknik Ekstraksi Mineral Emas Menggunakan Sianida" dibuat untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul dalam proses pengolahan mineral emas. Buku ini merangkum berbagai solusi yang dapat dilakukan dalam meningkatkan efisiensi pengolahan dari berbagai jenis batuan emas di Indonesia.

Isi Pokok :

  • Teknik aplikasi pengujian batuan emas secara mudah menggunakan peralatan yang serba murah namun berakurasi tinggi.
  • Panduan lengkap proses pelarutan/pelindian/leaching dengan tingkat perolehan yang tertinggi dalam skala produksi, beserta cara-cara pembuatan peralatan produksi.
  • Cara penggunaan karbon aktif, zinc dust, dan alat elektrowinning yang tepat dalam proses ekstraksi.
  • Penerapan teknik pemurnian emas dan perak secara kuantitatif maupun secara elektrolisis.
  • Metode penanganan limbah cair yang aman dan murah.
  • Tips pembuatan bahan-bahan kimia pendukung, seperti ; timbal II nitrat, perak nitrat, besi III, dan bahan kimia lainnya.

Seluruh isi dilengkapi dengan panduan praktek yang sangat mudah dipahami.

Ebook “ Ekstraksi Mineral Emas Menggunakan Sianida” ditulis dan disusun berdasarkan kajian-kajian mendalam berdasarkan dasar ilmu kimia metalurgi yang didukung oleh berbagai pengalaman dan temuan di lapangan dari berbagai daerah yang mengandung mineral emas di seluruh Indonesia.


Keanekaragaman jenis mineral batuan emas dari masing-masing daerah memerlukan teknik pengolahan yang juga berbeda antar berbagai jenis batuan tersebut. Ebook ini disusun melalui berbagai praktek lapangan dari berbagai wilayah dan jenis batuan, sehingga diharapkan para pembaca dapat menerapkan isinya secara tepat berdasarkan jenis batuan setempat.


Ebook disusun selengkap mungkin dengan penyajian yang mudah dipahami dan dimengerti, sehingga para pemula sekalipun dapat langsung menerapkan isinya di lapangan tanpa hambatan yang berarti.

Isi buku dibagi dalam beberapa bab yang sesuai dengan urut-urutan proses dalam pengolahan batuan emas. Setiap bab mengulas secara mendalam bagian-bagian dari prosesnya, disertai gambar-gambar yang lengkap dari berbagai proses tersebut.


Bab I merupakan pengantar yang mengulas secara umum tentang batuan mineral emas, berbagai proses pengolahan dan macam-macam bahan kimia pelarut emas.


Bab II berjudul “ Pengenalan Kimia Dasar” , merupakan bagian pengantar dari proses pengolahan yang sebagian besar adalah proses yang berhubungan dengan reaksi kimia. Bagian ini disajikan dengan bahasa yang sesederhana mungkin sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh segala kalangan pembaca.


Pada bab III ulasan semakin menjurus pada pemahaman material emas dan perak. Bagian ini sebenarnya lanjutan dari pembahasan pada Bab II, hanya saja ulasan dititikberatkan pada unsur-unsur logam emas dan perak. Bab ini diberi judul “ Sifat-Sifat Kimia dan Fisika Emas dan Perak” , mengulas berbagai hal yang berhubungan dengan sifat-sifat logam tersebut, seperti ; titik leleh, berat jenis, kemampuan larut dalam berbagai pelarut, dan berbagai sifat-sifat lainnya.


Bab IV mendeskripsikan berbagai jenis batuan emas dan ragam teknik pengolahannya. Batuan emas memiliki berbagai jenis yang didasarkan sifat mineral senyawa-senyawa logam yang menyertainya ( seperti tembaga, zinc, timbal, dan sebagainya) . Batuan oksida, karbonat, sulfida, dan sebagainya, diulas secara gamblang pada bagian ini, disertai penjelasan cara-cara pengolahannya.


Pada bagian V pembahasan dititikberatkan pada proses-proses pengolahan awal secara mekanis, yang bertujuan membuka penampang permukaan logam emas agar mampu kontak langsung dengan pelarut sianida. Proses mekanis adalah proses penghancuran dan penghalusan batuan emas hingga berukuran sangat halus ( di atas mesh 150) dengan berbagai mesin yang sesuai dengan tingkat ukuran partikelnya.


Proses-proses pengujian mineral emas disajikan dengan lengkap pada bab VI. Pada bagian ini, berbagai teknik pengujian mineral dipaparkan dengan baik meskipun menggunakan peralatan yang cukup sederhana. Hasil dari proses pengujian berupa wujud nyata logam emas yang diekstraksi melalui proses cepat, sehingga pembaca dapat menentukan jumlah logam emas/ perak yang terkandung di dalam batuan dalam waktu yang sangat cepat. Disamping pengujian yang akurat, pengujian indikasi juga diajarkan pada bagian ini, sehingga proses pengujian batuan dapat dilakukan secara mobile dan on-site. Pengujian indikasi diperlukan agar kita dapat mengetahui apakah suatu batuan mengandung logam emas ataupun tidak, tingkat emas terkandung tinggi atau rendah, dan sebagainya. Proses pengujian mineral emas yang disajikan pada bagian ini juga disajikan dalam bentuk petunjuk praktek di lapangan dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang terukur secara pasti.


Peralatan-peralatan reaktor ( tong) dan alat-alat pendukung lainnya ( khususnya berhubungan dengan proses leaching/ pelarutan) dideskripsikan dengan jelas pada bab VII, sehingga pembaca dapat dengan mudah membuat alat yang sama untuk melakukan proses sendiri.


Bab VIII menitikberatkan pada pembahasan berbagai proses oksidasi lumpur. Proses oksidasi sangat diperlukan agar lapisan permukaan emas dapat terbebaskan dari berbagai material pengotor. Banyaknya material pengotor yang menempel di permukaan emas akan menyulitkan dalam proses leaching dan menurunkan tingkat perolehan logam emas pada tahap ekstraksi sianida. Berbagai teknik oksidasi dari berbagai jenis batuan diajarkan pada bagian ini, termasuk juga diantaranya pembuatan berbagai jenis oksidator ( seperti cara pembuatan garam timbal II nitrat dan perak nitrat) . Penjelasan berbagai proses oksidasi juga diikuti oleh petunjuk cara-cara mempraktekkannya, dengan takaran-takaran penggunaan bahan kimia yang terukur.


Pembahasan proses pelarutan ( proses leaching) dilakukan pada bab IX. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada proses leaching dibahas secara baik dalam bab ini, diantaranya ; penanganan dan pengendalian pH, pengendalian tingkat kelarutan oksigen, jumlah berat maupun volume lumpur per metric ton air, jumlah efektif penggunaan sianida, jumlah karbon yang diberikan ( melalui pengujian tingkat serapan karbon terhadap emas yang terlarut) , pengujian material padat terhadap masih adanya kemungkinan sebagian dari logam emas yang belum terlarut, dan beberapa pembahasan materi lainnya.


Proses ekstraksi emas dari larutannya dibahas pada bab X. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengekstraksi logam emas dari larutannya, antara lain ; menggunakan karbon aktif, methoda pertukaran kation menggunakan logam zinc, dan ekstraksi menggunakan proses elektrokimia yang secara umum lebih dikenal sebagai proses elektrowinning. Pada bagian ini, berbagai cara proses tersebut dibahas tuntas dan lugas, sehingga pembaca dapat menerapkannya dengan mudah, meskipun sebelumnya tanpa pengalaman sama sekali. Hal terbaru dari buku ini adalah pembahasan penggunaan elektrowinning dalam proses ekstraksi; sebagaimana diketahui, proses yang menggunakan system elektrowinning memiliki berbagai keunggulan dibanding cara-cara ekstraksi jenis lainnya.


Tahapan akhir pengolahan menggunakan karbon, zinc, dan elektrowinning dikupas pada bab XI. Hasil dari ekstraksi menggunakan karbon, zinc, dan elektrowinning adalah konsentrat logam emas, perak, dan sebagian berupa logam-logam pengotor seperti tembaga, zinc, dan berbagai jenis logam lainnya. Pada bab ini dibahas dengan cukup baik berbagai teknik yang dapat dilakukan untuk menghasilkan logam emas dan perak dari konsentrat-konsentrat tersebut.


Bab XII membahas berbagai jenis proses yang dapat dilakukan untuk memisahkan logam emas dan perak, serta memurnikan masing-masing logam. Pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan secara konvensional maupun dengan menggunakan proses elektrokimia, yang secara umum sering disebut sebagai proses elektrolisa. Proses-proses tersebut disajikan dengan baik dan lengkap pada bagian ini, diikuti dengan petunjuk cara-cara melakukannya, sehingga pembaca dapat langsung melakukan praktek tanpa mengalami kesulitan apapun.


Pada bab XIII diajarkan cara-cara penanganan limbah cair hasil proses sianida, agar dampak negatifnya terhadap pencemaran lingkungan dapat ditekan serendah mungkin. Pada bagian ini diajarkan juga cara-cara pembuatan bahan kimia penetralisir limbah, seperti pembuatan garam besi III, dan berbagai tips lainnya.


Bab XIV mengupas tentang pengolahan emas dari limbah buangan ( tailing) hasil proses sianidasi yang dilakukan dengan proses yang biasa/ tradisional. Berdasarkan temuan di lapangan ( dari berbagai sentra pengolahan emas di seluruh daerah) , ditemukan bahwa limbah-limbah dari buangan proses sianida yang dilakukan oleh kalangan umum sebelum ini ternyata masih memiliki tingkat yang sangat ekonomis untuk diolah kembali. Jumlah limbah yang tersedia untuk saat ini mencapai belasan juta metric ton, suatu kuantitas yang sangat besar. Hasil penelitian yang dilakukan, rata-rata kandungan logam emas dari limbah buangan proses oksidasi antara 2 – 4, 5 gram per metric ton, sehingga sangat layak untuk diolah kembali ( tentunya jika menggunakan kaidah-kaidah proses yang benar) .


Ebook disajikan dalam bentuk teori, praktek, dan gambar-gambar dari berbagai proses yang dilakukan.Penyajian yang padat dan berisi membuat ebook ini sangat layak dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan proses pengolahan sianidasi.

Tanpa Nama
  • Jakarta, Jakarta, Indonesia
  • Mutiara Depok Blok CB No.7 Depok
  • 0818602049
Lihat Peta yang Lebih Besar